Sang Ratu Adil, Sebuah Ulasan (1)

3 01 2010

Sebagian masyarakat Jawa percaya akan datangnya masa kejayaan dan kemakmuran yang dipimpin oleh “Ratu Adil” yang telah diramalkan oleh para leluhur dan dinanti-nantikan kemunculannya oleh masyarakat Nusantara. Sang Ratu Adil atau Satrio Piningit atau Imam Mahdi atau kognasi menurut saudara-saudara kita yang lain dikatakan sebagai Sang “Metteya” atau dalam bahasa Sansekerta “Maitreya” atau dalam bahasa Tionghoa “Mile Pusa”= Yang akan datang, adalah cerminan dari rasa haus manusia akan kelapangan spiritual dan air kehidupan. Apakah Sang Ratu Adil itu hanya sebuah khayalan atau angan-angan atau memang manusia pilihan Tuhan Yang Maha Esa itu betul betul akan datang sesuai dengan dambaan masyarakat Indonesia, yang mampu mewujudkan Negara yang Adil, Makmur dan Sentosa.

Persepsi dan dinamika pendapat masyarakat

Kontroversi dan silang pendapat tentang keberadaan Sang Ratu Adil ini telah memunculkan berbagai pendapat dan masing-masing mendasarkan pada argumen yang berbeda-beda. Perbedaan pendapat tersebut kurang lebih terbagi dalam 7 (tujuh) kelompok, yaitu :

Pendapat pertama, mengatakan bahwa, apa yang ditulis dan disampaikan oleh para Pujangga tersebut merupakan bentuk karya sastra adiluhung yang memiliki tingkat apresiasi yang tinggi yang digunakan untuk menyampaikan pikiran, ungkapan dan pendapat, sekaligus didalamnya mengandung Pasemon sebagai medianya. Pasemon adalah kalimat sindiran yang halus penuh lambang yang hampir tak teraba dan terbaca oleh setiap orang untuk menilai dan mengkritik orang lain termasuk pemimpin atau Raja. Saking halusnya kalimat yang digunakan, maka hanya orang-orang tertentu saja yang mengetahui arti kalimat yang terkandung didalamnya. Pasemon yang ditujukan kepada raja disebut Praja, dimana sindiran tersebut muncul sebagai akibat ketidaksetujuan terhadap sifat, sikap, dan perilaku pemimpin yang dianggap kurang baik.

Pendapat kedua, mengatakan bahwa Sang Ratu Adil hanyalah sebuah kiasan dan sebagai pengejawantahan dari perilaku secara syariat maupun tasawuf, sebagaimana dikisahkan dalam pewayangan yakni Wahyu Makuto Romo yang diperebutkan oleh Pendawa dan Korawa, yang akhirnya Arjuna dari pihak Pendawa yang memperolehnya. Wahyu Makuto Romo yang ternyata berupa ilmu yaitu Hasta Brata (delapan perilaku atau sifat pemimpin yang harus dipilih).

Pendapat ketiga, menyatakan bahwa sesungguhnya pada setiap diri kita ini adalah calon para pemimpin, asalkan mau berusaha, berjuang dan mengamalkan Hasta Brata serta didukung dengan pemahaman yang baik, niat yang tulus serta tekad yang kuat, insya allah, akan lulus dalam kawah candra dimuka/ujian, sehingga bisa menjadi Sang Ratu Adil atau khalifatullah.

Pendapat yang keempat, percaya bahwa Satrio Piningit itu memang akan muncul dengan didampingi oleh pembimbing spiritual/pengasuhnya Sabdo Palon atau Naya Genggong dan mampu membawa bangsa Indonesia kearah kemakmuran.

Pendapat yang kelima, juga percaya bahwa Sang Ratu Adil itu memang akan muncul, tapi tidak didampingi oleh pembimbing spiritual/pengasuhnya Sabdo Palon atau Naya Genggong, karena Sang Ratu Adil itu juga adalah Sabdo Palon atau Naya Genggong itu sendiri.

Pendapat yang keenam, bahwa secara perspektif nalar ilmiah, ramalan Jayabaya tidak lebih hanya sekadar mitos atau diyakini tidak pernah ada, sebab tidak ditemukannya peninggalan manuskripnya yang asli, namun seolah-olah ada. Hingga saat ini para ahli belum menemukan kitab otentik (asli) yang memuat ramalan Jayabaya dan naskah asli yang berupa tulisan Sang Prabu.

Pendapat yang ketujuh, pada dasarnya Sang Ratu Adil itu hanyalah sebuah perumpamaan dan yang dimaksud tak lain dan tak bukan adalah Allah SWT sendiri.

Terlepas dari mana yang paling tepat dari semua persepsi tersebut, pada dasarnya upaya untuk menafsirkan apa yang telah ditinggalkan oleh para leluhur kita, bukanlah hal yang mudah. Namun tidak ada salahnya kita berwacana, berdiskusi dan mencoba untuk memecahkan dan membuka tabir misteri Nusantara ini melalui olah intuisi, logika dan penalaran kita sebagai manusia, dan tentunya tidak menjadikan kita sesat dan ingkar serta tidak boleh menyentuh batas-batas, apalagi mendahului kehendak/kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

Harapan dan keyakinan

Mengapa Sang Ratu Adil itu menjadi sedemikian penting dan menjadi dambaan masyarakat? Hal tersebut tak terlepas dari pengaruh keberadaan warisan leluhur dan pesan-pesan yang ditinggalkan, seperti Serat Musarar Jayabaya, Serat Darmogandhul Sabda Palon, Uga Wangsit Siliwangi dan Ramalan Ronggowarsito yang entah kebetulan atau tidak, yang jelas keempat-empatnya menyebutkan hal-hal yang hampir senada tentang keberadaan Sang Ratu Adil atau Satrio Piningit di tanah Jawa.

Apa yang digambarkan oleh Jayabaya yang notabene seorang Raja yang hidup pada abad-XI, namun mampu merefleksikan gambaran kondisi kedepan ramalan tentang akan munculnya sejumlah kerajaan setelah Jenggala, Kediri, Singasari dan Ngurawan yang bukan kekuasaan Jayabaya yaitu Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram serta raja raja dan pemimpin lainnya yang berupa pralambang, hingga datangnya jaman paling sengsara di Jawa (Kalabendu) dan datangnya Sang Ratu Adil yang mampu merubah keadaan dan membawa kemakmuran di Tanah Jawa.

Jika kita melihat pada sejarah perkembangan Indonesia yang telah memasuki lima era yaitu dari Era Pra-Kolonial (sebelum 1602) dengan munculnya kerajaan-kerajaan Hindu, Buddha dan Islam. Kemudian dilanjutkan dengan Era Kolonial, berturut-turut Portugis, VOC/Belanda dan Jepang (1602-1945), hingga tercapainya Kemerdekaan, lalu dimulainya Era Orde Lama (1945-1966) yang dilanjutkan dengan Era Orde Baru (1966-1998) sampai Era Reformasi dewasa  ini, seakan terdapat kesesuaian atau dapat dikatakan mendekati dengan apa yang telah diramalkan oleh para leluhur kita.

Namun berdasarkan pendapat para ahli, karya sastra yang ditulis pada masa yang diperkirakan sebagai era Jayabaya, memiliki kecenderungan terpengaruh oleh ajaran Islam. Pendapat tersebut menyebutkan :

Kakawin Gatutkacasraya karya Mpu Panuluh, banyak menggunakan kata-kata dari Bahasa Arab. Penggunaan kosa kata Arab yang serupa juga dapat ditemukan dalam Serat Baratayuddha, karya bersama Mpu Panuluh dan Mpu Sedah (Dr. Sucipta Wiryosuparto). Berarti telah terjadi interaksi antara Hindu dengan Islam.

Serat Praniti Wakya banyak mengambil inspirasi penulisan dari sumber-sumber Islam. Serat ini seolah merupakan bentuk sinkretis perpaduan antara Islam dan kejawen. Akan tetapi nampak bahwa ajaran Islam lebih dominan sebagai substansi. Sedangkan ‘kejawen’ sendiri terposisikan sebagai kulit luar dari bentuk pemikiran Jawa yang telah terisi dengan ruh Islam (Susiyanto/ http://www.susiyanto.wordpress.com).

Berdasarkan bukti bukti yang ada menunjukkan, serat Jayabaya muncul pada medio abad ke-18 dan semakin populer abad ke-19  (Ongokham, 1977).

Pendapat tersebut mengandung arti bahwa, maka ramalan Jayabaya yang beredar dewasa ini adalah versi-versi gubahan (atau ditulis kembali) oleh seseorang yang mengambil dari sebuah sumber induk yang sama yaitu kitab yang disebut Musarar atau Asrar (memiliki kesamaan ide dan gagasan). Dan Sang penulis adalah seseorang yang hidup di jaman setelah jaman Jayabaya atau pada masa dimana dia bisa mengikuti perkembangan sejarah sejumlah kerajaan pada masa lampau, seperti Jenggala, Kediri, Singasari, Ngurawan, Pajajaran, Majapahit, Demak, Pajang, Mataram. Namun beliau ini juga memang memilki kemampuan untuk menggambarkan prediksi masa depan yang diungkapkan melalui pralambang-pralambang. Sehingga penggabungan antara keduanya ini, terwujud suatu karya sastra yang mampu memberikan gambaran tentang masa lalu dan masa depan secara jelas dan lebih meyakinkan (Susiyanto/ http://www.susiyanto.wordpress.com).

Namun terlepas dari pro dan kontra tersebut, bagi orang Jawa (yang percaya), ramalan Jayabaya sangat diyakini akan kebenarannya. Termasuk yakin, bahwa sosok Sang Ratu Adil akan datang dan muncul untuk memperbaiki negeri ini.

Argumen tentang Sang Ratu Adil

Menurut Raden Ngabehi Ronggowarsito, ada 7 (tujuh) satrio piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang dikemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit (Indonesia), yaitu :

Pertama, Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, yaitu tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara, yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan kemudian akan menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor di seluruh dunia. Sedangkan Jayabaya melambangkannya sebagai Lung gadung rara nglikasi. Lung Gadung Rara Nglikasi, artinya Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita. Hal ini senada pula dengan Uga Wangsit Siliwangi yang menyebutkan, penguasa yang berasal dari orang biasa. Tapi memang keturunan penguasa dahulu kala dan ibunya adalah seorang putri Pulau Dewata. Kutipan-kutipan dari warisan leluhur tersebut ada yang mentafsirkan sebagai Presiden RI ke-1, Soekarno.

Kedua, Satrio Mukti Wibowo Kesandung Kesampar, , yaitu tokoh pemimpin yang berharta dunia juga berwibawa/ditakuti, namun akan mengalami suatu keadaan yang buruk. Sedangkan Jayabaya melambangkannya sebagai Gajah meta semune tengu lelaki, artinya Raja yang disegani/ditakuti, namun dipersalahkan. Hal ini senada pula dengan Uga Wangsit Siliwangi yang menyebutkan, penguasa yang mendirikan benteng yang tidak boleh dibuka, yang mendirikan pintu yang tidak boleh ditutup, membuat pancuran ditengah jalan, memelihara elang dipohon beringin. Hal ini ada yang mentafsirkan sebagai Presiden RI ke-2, Soeharto.

Ketiga, Satrio Jinumput Sumela Atur, yaitu tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja. Sedangkan Jayabaya menyebutkan, Bupati berdiri sendiri-sendiri, Kemudian berganti jaman Kutila. Hal ini ada yang mentafsirkan sebagai Presiden RI ke-3, BJ Habibie.

Keempat, Satrio Lelono Tapa Ngrame, yaitu tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan. Jayabaya menyebutkan : Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram, yang di tafsirkan sebagai Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid/Gus Dur.

Kelima, Satrio Piningit Hamong Tuwuh, yaitu tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya. Sedangkan Jayabaya melambangkan sebagai Rara ngangsu, randa loro nututi pijer tetukar, yang di tafsirkan sebagai Presiden RI ke-5, Megawati Soekarnoputri.

Keenam, Satrio Boyong Pambukaning Gapuro, yaitu tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong/dari Menteri menjadi Presiden) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan.  Sedangkan Jayabaya melambangkan sebagai Tan kober paes sarira, Sinjang kemben tan tinolih, yaitu tidak berkesempatan menghias diri. Hal ini ada yang mentafsirkan sebagai Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudoyono/SBY.

Ketujuh, Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu, yaitu tokoh pemimpin yang amat sangat religius (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak berdasarkan petunjuk Allah SWT. Sedangkan Jayabaya menyebutkan, Ing Semarang Tembayat, Poma den samya ngawruhi, Sasmitane lambang kang kocap punika (Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut). Yang dalam hal ini ditafsirkan sebagai Sang Ratu Adil, Pemimpin masa depan Bangsa Indonesia (http://nurahmad.wordpress.com/)

Hubungannya dengan eksistensi NKRI

Jika penafsiran ramalan Ronggowarsito tersebut (katakanlah) benar adanya, berarti, tinggal satu lagi tokoh pemimpin bangsa Indonesia yang akan berkuasa setelah SBY, yaitu Satrio Pinandito Sinisihan Wahyu seorang pemimpin yang Religius/alim ulama/aulia/waliyullah (Pinandito) dan akan mendapat petunjuk dari Allah SWT (Sinisihan Wahyu), sebagai pemimpin masa depan Bangsa Indonesia.

Secara logika manusiawi, kita sebagai masyarakat dan juga sebagai warga Negara, tentunya hal ini perlu untuk ditelaah dan didiskusikan. Apakah setelah (katakanlah) Sang ratu Adil/Satrio Piningit memimpin bangsa Indonesia, sudah tidak ada lagi tokoh yang memimpin Bangsa dan Negara tercinta ini? atau apakah berarti setelahnya, Nusantara dan Dunia sudah mendekati apa yang dikatakan sebagai masa akhir zaman?

Sekarang, kita coba hitung-hitungan. Sesuai Pasal 7 UUD 1945 menyebutkan bahwa, Presiden dan Wakil Presiden memegang jabatannya selama masa lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali. Mendasarkan pada pasal tersebut, (katakanlah) SBY memangku jabatannya sebanyak 6x (Seperti Alm. Presiden Soeharto), berarti beliau akan menjabat sampai dengan tahun 2034. Setelahnya bangsa Indonesia dipimpin oleh Sang ratu Adil/Satrio Piningit sejati (katakanlah) lebih lama, misalkan 10x, berarti akan mencapai pada tahun 2084. Pertanyaannya adalah, apakah setelah tahun 2084, sudah tidak ada lagi yang namanya Negara Republik Indonesia atau berarti Negara yang kita cintai ini telah tamat?

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah mungkin, Sang pembimbing Sabdo Palon yang beragama Hindu, memiliki seorang murid/asuhan yaitu Sang Ratu Adil/Satrio Piningit yang (ditafsirkan) beragama Islam? Blunder deh….! Tapi tunggu dulu….. Kita buka dulu sejarah masuknya Islam ke Indonesia.

Berdasarkan catatan sejarah, masuknya Islam ke Indonesia pertama kali adalah pada abad I H atau abad VII-VIII M. Namun yang kita ketahui secara umum yaitu Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Aceh-lah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Kerajaan Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Islam yang masuk dan menyebar ke Indonesia adalah Islam Sufi, terutama semenjak abad ke-XIII, yaitu sejak surutnya kebesaran kota Baghdad sebagai pusat kebudayaan Islam Sunni (Syari’i), maka bermulalah dominasi Islam Sufi. Karena yang menyebar ke Indonesia adalah Islam Sufi, maka agama Islam yang masuk ke Indonesia ini memilki dasar pemikiran yang masih dapat diterima oleh religi Jawa kuno yaitu, Animisme (Percaya akan arwah nenek moyang) dan Dinamisme (segala sesuatu memiliki jiwa) dan ajaran budaya Hindu-Kejawen yang dikembangkan oleh kerajaan-kerajaan Jawa pedalaman. Kesamaan dasar pemikiran tersebut yaitu, bahwa manusia bisa menjalin hubungan langsung dengan daya dan roh gaib melalui samadi atau dengan perantaraan dzikir dan dikatakan bisa ma’rifat (berhadapan dengan Allah) atau bahkan bisa mengalami manunggal (bersatu) kembali dengan Tuhan-nya. Perpaduan unsur-unsur filsafat Islam dengan warisan tradisi budaya Hindu-Kejawen terlihat dari perubahan obyek mitologi dari dewa-dewa Hindu menjadi Wali-wali dalam Islam. Inilah proses kegiatan “Jawanisasi” unsur-unsur Islam Sufisme yang menjadi strategi kebudayaan para pujangga dan sastrawan, khususnya Mataram Islam. (Sumber : Tulisan Prof DR Simuh – tahun 2000). Di tanah Jawa, Islam merata masuk hingga pelosok dibawah kepeloporan kesultanan Demak pada akhirnya timbul adanya istilah kaum Muslim Santri di pesisir dan Muslim Abangan di pedalaman.

Jadi jika mendasarkan pada realitas sejarah, paling tidak ada keterkaitan sehingga mampu menjelaskan pertanyaan tersebut diatas. Kesimpulannya, Putra Betara Indra=Budak Angon=Satrio Piningit=Satrio Pinandhito Sinisihan Wahyu, atau beliau yang dinamakan “SANG RATU ADIL” adalah :

  • Orang Islam (Sufi) yang memiliki tingkat ketauhidan yang sangat tinggi yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (Lahir di bumi Mekah; Raja keturunan Waliyullah; Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa/Jayabaya); Hanya Sirullah prajuritnya/pasukan Allah dan senjatanya adalah dzikir semata (Ronggowarsito).
  • Orang biasa (cari oleh kalian pemuda gembala/Uga Wangsit Siliwangi; tidak tertarik dengan harta benda; bukan pendeta disebut pendeta bukan dewa disebut dewa namun manusia biasa/Jayabaya);
  • Keturunan Sunda (Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan/Uga Wangsit Siliwangi);
  • Tampan (berparas seperti Batara Kresna);
  • Sifatnya keras hati, mudah naik darah tapi pemaaf dan arif bijaksana (Berwatak seperti Baladewa/Jayabaya);
  • Setengah baya dan memiliki nama yang unik/kuno (Masih muda sudah dipanggil orang tua, pada saat masih muda, banyak mengalami halangan dalam hidupnya/Jayabaya), pemuda gembala (Uga Wangsit Siliwangi).

Tanda tanda kedatangannya, Kapan?

Kedatangan Sang Ratu Adil sebelumnya ditandai dengan adanya bintang pari panjang sekali tepat di arah Selatan menuju Timur, lamanya tujuh malam, hilangnya menjelang pagi sekali (Jayabaya). Dengan tanda utama yaitu Muntahnya lahar gunung Merapi, bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir, (Sabdo Palon). Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung lainnya. Ribut seluruh bumi. Akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara (Uga Wangsit Siliwangi). Alampun ikut terpengaruh dengan banyak terjadi gerhana matahari dan bulan, hujan abu dan gempa bumi, Angin ribut dan salah musim, banyak terjadi kerusuhan (Ronggowarsito). Itulah tanda “Sang Ratu Adil” telah datang.

Jadi mendasarkan pada ramalan-ramalan diatas, tanda-tanda Sang Ratu Adil akan datang adalah muntahnya gunung Merapi dan adanya tanda bintang pari panjang yang lamanya tujuh malam. Dan pada tanggal 13 Mei 2006 lalu, “Gunung Merapi” memuntahkan laharnya dan untuk pertama kalinya ditetapkan tingkat statusnya menjadi “Awas Merapi”. Lalu fenomena lintasan “Meteor Gemini” yang terjadi pada malam hari dari tanggal 12 Desember 2009 hingga tanggal 18 Desember 2009 lalu. Apakah kejadian-kejadian tersebut diatas merupakan pertanda telah datangnya Sang Ratu Adil? Hanya Allah SWT yang tahu.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: